Entri Populer

Monday, January 30, 2012

Kapitalisme Memutilasi dan Memanipulasi Tuhan


Kapitalisme Memutilasi dan Memanipulasi Tuhan
Oleh : Ali Arrida*
Mengapa?
Karena kapitalisme saat ini bukan hanya meracuni sistem kehidupan masalah perekonomian, walaupun orientasinya sebenarnya bagaimana persaingan bebas di pasar dan setiap manusia melakukan pekerjaan sesuai apa yang dikehendaki, sehingga meningkatkan kualitas kerjanya dalam menampung materi sebanyak-banyaknya agar tidak tertindas. Karena dunia hanya milik orang bermodal.
Meskipun ada sisi baiknya meningkatkan kualitas kerja agar tak tertindas, karena siapapun yang mengharapkan keuntungan yang besar haruslah memiliki kekuatan sacara materiil. Jika tidak memiliki modal maka keuntungan yang akan didapat juga akan sedikit. Kausalitas yang menjadi indikator di sini adalah kata “agar tak tertindas” dan “menjadi si tertindas”.
Menurut penulis kasus tersebut menghadirkan polemik di masyarakat kala ini tentang sebuah pemikiran yang salah memahami dan mengartikan kapitalisme. Yang artinya ketika kita melakukan sebuah kegiatan ekonomi maka yang harus memilih salah satunya antara menindas dan tertindas. Dilematis, menjadi penindas dan harus menindas atau tertindas oleh penindas. Lalu, tegakah kiranya kita menindas padahal masyarakat Indonesia seluruhnya percaya bahwa adanya Tuhan Yang Maha Esa?, bukankah agama selalu mengajarkan kebaikan bahkan pada hewan sekalipun. Atau relakah kita tertindas?, sejak zaman dahulu setiap manusia yang tertindas memiliki keinginan untuk hidup bebas tanpa ada diskriminasi.
Marx mengatakan Apapun bentuk kompetisi itu, hasilnya selalu sama: "Akumulasi! Akumulasi! itulah nabi-nabinya!" Sedangkan para pekerja adalah korbannya. Dan itulah Kapitalisme.
Namun, Ali Syari’ati mengomentari sikap Marx. Dalam hal ini ada dua aspek yang berbeda dalam marxisme; yang satu mempertentangkan Marx dengan orde kapitalis pada masanya, dan menyerangnya dengan sekuat tenaga; yang lainnya menyuruh Marx terus menegakkan orde sosial-komunis yang sebenar-benarnya. Pada aspek yang kedua, aspek Marxisme yang "meng-ya-kan", tampaknya Marx membiarkan kepekaannya yang menakjubkan pada nilai moral manusia dikalahkan oleh semangat revolusionernya untuk politik dan ekonomi komunis, dan sekaligus mengubah dirinya menadi pemimpin politik yang lain, haus akan kekuasaan da keranjingan kemenangan politis.

Meskipun demikian, dalam tahap kritisnya aspek Marx yang lebih menarik dan telah menawan hati dan jiwa orang-orang yang tertindas oleh kapitalisme.Ia menunjukkan dengan jelas kepekaan ini ketika ia menyerang sistem kapitalisme sebagai sesuatu yang "merendahkan nilai-tinggi kemanusiaan". Dengan nada mistik ia menyebut kemanusiaan sebagai bergairah, sadar diri, setia, bangga, bebas, berpengetahuan dan dilengkapi kebajikan moral - tetapi telah terasing dari dirinya sendiri dalam sistem mekanisme yang "tidak mempunyai belas kasihan, menindas dan tidak berperasaan", "dalam pemerasan, korupsi moral dan keserakahan" kapitalisme. Ia meneriakkan "kerja penting bagi kemanusiaan". Kapitalisme menganggap kerja sebagai produk material dan memberikan nilai uang padanya, sehingga pekerja dijadikan budak perutnya.

Sistem kapitalis yang seperti dilakukan pada zaman dahulu sudah tidak relevan, dan kapitalisme dewasa ini hadir dalam kehidupan masyarakat dengan desain berbeda. Meracuni seluruh orang untuk menjadikan “uang” sebagai “Tuhan”. Bahkan sangat tragis, uang dapat mengabulkan apapun yang dinginkan.
Bukan hanya itu, sesuatu yang dicari manusia selalu menjadi prioritas utama adalah yang sifatnya instan. Mulai dari memilih agama ataupun mengaplikasikan keagamaan, proses produksi, pilihan konsumen, tak terkecuali “men-uang-kan” sesuatu yang bisa “di-uang-kan”, tanpa memikirkan efek yang diterima di kelak hari. Memang manusiawi secara logis lebih menyukai yang instan apalagi nyata. Namun secara harfiah naluri kita seakan menolak sistem tersebut, karena segala sesuatu tanpa usaha dan menulusuri serta memikirkan segala bentuk ke-instan-an ( nilai lebih dari kapitalisme ) pasti kita di kelilingi keragu-raguan dan akhirnya pembodohan.
Iya, pembodohan itulah yang diharapkan oleh sistem kapitalisme. Akumulasi! Akumulasi! Akumulasi! Pemusatannya sehingga pembodohan tersebut tidak terasa karena mereka bodoh mengetahui esensi diri dan kepribadiannya serta ke-Tuhan-an yang ada pada dirinya sendiri. Uang-lah yang menguasai dirinya untuk bergerak maju melawan ke-Tuhan-an dan Tuhannya sendiri.
Meskipun sejak lama banyak penentang paham Kapitalisme di Indonesia, Bung Hatta salah satunya menetang kapitalisme, namun tidak diindahkan oleh rezim otoritorianisme orde baru. Saat ini tak ada yang dapat membantah kedigdayaan rezim Kapitalisme yang mendominasi dunia. Kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas dalam setiap sektor kehidupan, logika, dan budaya multinasional. Dan, kritik yang ditujukan terhadap Kapitalisme justru bermuara kepada terkooptasinya kritik tersebut untuk lebih mengukuhkan Kapitalisme.
Lalu, apa yang harus dilakukan ? kapitalisme telah merambat keseluruh sektor-sektor yang seharusnya menjadi titik balik atau cermin bagi manusia seluruhnya yaitu melalui memikirkan dan merenungkan bagaimana menjadi manusia seutuhnya. “Back to nature”!
Kembali pada diri pribadi untuk mengetahui esensi yang ada pada diri manusia yaitu Tuhan.

*        Penulis adalah peneliti masalah sosial-keagamaan Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur
*        Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Jurusan Ilmu Komunikasi 2009
*        Email : ali.ridho23@gmail.com

No comments:

Post a Comment